Belajar Fisika Berarti Belajar untuk Mendekat KepadaNya

Slide 1

Slide 2

Slide 3

Slide 4

Slide 5

Slide 6

Slide 7

Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Friday, February 22, 2019

Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) di Indonesia

Jakarta, NU Online
Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) memperingati hari lahir (harlah) yang keenam di Gedung LPOI, Jakarta Pusat, Jumat (1/6). LPOI terdiri atas 14 Ormas Islam, yakni Nahdlatul Ulama, Syarikat Islam Indonesia, Persatuan Islam, Al-Irsyad Al-Islamiyah, Mathlaul Anwar, Ittihadiyah, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), IKADI, Az-Zikra, Al-Washliyah, Persatuan Tarbiyah Islamiyah, Persatuan Umat Islam (PUI), HBMI, dan Nahdlatul Wathan. 

Peringatan tahunan ini dihadiri Ketua LPOI KH Said Aqil Siroj, Sekretaris Umum H Luthfi A. Tamimi, perwakilan dari Kementerian Dalam Negeri, dari Mabes TNI, Direktur Bimas Polda Metro Kombes Pol Sambodo Purnomo Yogo, dan Bendahara Umum PBNU H Ing Bina Suhendra, perwakilan dari Kementerian Dalam Negeri, dan dari Mabes TNI. 

Dalam sambutannya, Ketua LPOI KH Said Aqil Siroj mengatakan bahwa keberadaan LPOI sangat diharapkan oleh Muslim sebagai tempat silaturahim. 

"Semua mendambakan menjadi satu. Tidak harus melebur, tapi ada forum untuk silaturahim, saling melengkapi, saling tukar informasi," kata Kiai Said. 

Lembaga yang dideklarasikan pada 2012 ini lahir sebelum Indonesia merdeka. Para tokoh-tokoh pendiri ormas ini, kata Kiai Said, merupakan pejuang, seperti KH Hasyim Asy'ari dan KH Wahid Hasyim. 

"Tokoh-tokoh di ormas LPOI ini semua pejuang merebut kemerdekaan Indonesia. Semuanya punya andil dalam perjuangan merebut kemerdekaan," jelasnya. 

Menurutnya, selama ini LPOI aktif membicarakan hal-hal besar seperti penolakan terhadap kebijakan menteri pendidikan tentang sekolah lima hari. 

Kiai Said juga menyinggung tentang kelompok-kelompok radikal yang ada di Indonesia. Menurutnya, untuk melawan radikalisme dan menjaga NKRI, semua pihak harus bersama-sama bertanggung jawab, bergerak, melangkah sesuai dengan kemampuan masing masing.

"Yang paling penting kita sepakat mengawal NKRI," ucap Kiai Alumnus Universitas Ummul Qura Arab Saudi itu. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)
Share:

Sunday, January 10, 2016

Rasulullah Pernah Menyebut Bangsa Indonesia

Rasulullah Pernah Menyebut Bangsa Indonesia




Tatkala salah satu guru Prof. DR. al-Muhaddits as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki dan Al-'Allamah al-'Arif billah Syaikh Utsman bersama rombongan ulama lainnya pergi berziarah ke Makam Rasulullah saw., tiba-tiba beliau diberikan kasyaf (tersingkapnya hijab) oleh Allah swt. dapat berjumpa dengan Rasulullah saw. 

Di belakang Nabi Muhammad saw. sangat banyak orang yang berkerumunan. Ketika ditanya oleh guru as-Sayyid Muhammad al-Maliki itu: “Ya Rasulullah, siapakah orang-orang itu?”

Rasulullah saw. pun menjawab: “Mereka adalah umatku yang sangat aku cintai.”

Dan diantara sekumpulan orang yang banyak itu ada sebagian kelompok yang sangat banyak jumlahnya. Lalu guru as-Sayyid Muhammad al-Maliki bertanya lagi: “Ya Rasulullah, siapakah mereka yang berkelompok sangat banyak itu?”

Rasulullah saw. kemudian menjawab: “Mereka adalah bangsa Indonesia yang sangat banyak mencintaiku dan aku mencintai mereka.

Akhirnya, guru as-Sayyid Muhammad al-Maliki itu menangis terharu dan terkejut. Lalu beliau keluar dan bertanya kepada jama’ah: “Mana orang Indonesia? Aku sangat cinta kepada Indonesia.” (Dikutip dari ceramah Syaikh KH. Muhyiddin Abdul Qadir al-Manafi).
 
Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki Merangkul Mbah Hasan Mangli Magelang
Bukti kecintaan as-Sayyid Muhammad al-Maliki kepada orang Indonesia adalah dengan membangunkan Pesantren khusus untuk orang Indonesia di Mekkah. Dan beliau sangat senang dan bahagia apabila ada orang/ulama Indonesia yang menyempatkan bersilaturrahim di rumahnya. Bahkan beliau sering memberikan buah tangan (hadiah) kepada orang/ulama Indonesia yang bersilaturrahim tersebut.
Dari Berbagai Sumber
Share:

Thursday, December 31, 2015

30 ORANG YANG PERTAMA DALAM ISLAM

30 ORANG YANG PERTAMA DALAM ISLAM
1. Orang yang pertama menulis Bismillah : Nabi Sulaiman AS.
2. Orang yang pertama minum air zamzam : Nabi Ismail AS.
3. Orang yang pertama berkhatan : Nabi Ibrahim AS.
4. Orang yang pertama diberikan pakaian pada hari qiamat : Nabi Ibrahim AS.
5. Orang yang pertama dipanggil oleh Allah pada hari qiamat : Nabi Adam AS.
6. Orang yang pertama mengerjakan saie antara Safa dan Marwah : Sayyidatina Hajar (Ibu Nabi Ismail AS).
7. Orang yang pertama dibangkitkan pada hari qiamat : Nabi Muhammad SAW.
8. Orang yang pertama menjadi khalifah Islam : Abu Bakar As Siddiq RA.
9. Orang yang pertama menggunakan tarikh hijrah : Umar bin Al-Khattab RA.
10. Orang yang pertama meletakkah jawatan khalifah dalam Islam : Al-Hasan bin Ali RA.
11. Orang yang pertama menyusukan Nabi SAW : Thuwaibah RA.
12. Orang yang pertama syahid dalam Islam dari kalangan lelaki : Al-Harith bin Abi Halah RA.
13. Orang yang pertama syahid dalam Islam dari kalangan wanita : Sumayyah binti Khabbat RA.
14. Orang yang pertama menulis hadis di dalam kitab / lembaran : Abdullah bin Amru bin Al-Ash RA.
15. Orang yang pertama memanah dalam perjuangan fisabilillah : Saad bin Abi Waqqas RA.
16. Orang yang pertama menjadi muazzin dan melaungkan adzan: Bilal bin Rabah RA.
17. Orang yang pertama bersembahyang dengan Rasulullah SAW : Ali bin Abi Tholib RA.
18. Orang yang pertama membuat minbar masjid Nabi SAW : Tamim Ad-dary RA.
19. Orang yang pertama menghunuskan pedang dalam perjuangan fisabilillah : Az-Zubair bin Al-Awwam RA.
20. Orang yang pertama menulis sirah Nabi SAW : Ibban bin Othman bin Affan RA.
21. Orang yang pertama beriman dengan Nabi SAW : Khadijah binti Khuwailid RA.
22. Orang yang pertama mengasaskan usul fiqh : Imam Syafei RH.
23. Orang yang pertama membina penjara dalam Islam: Ali bin Abi Tholib RA.
24. Orang yang pertama menjadi raja dalam Islam : Muawiyah bin Abi Sufyan RA.
25. Orang yang pertama membuat perpustakaan awam : Harun Ar-Rasyid RH.
26. Orang yang pertama mengadakan baitul mal : Umar Al-Khattab RA.
27. Orang yang pertama menghafal Al-Qur'an selepas Rasulullah SAW : Ali bn Abi Tholib RA.
28. Orang yang pertama membina menara di Masjidil Haram Mekah : Khalifah Abu Ja'far Al-Mansur RH.
29. Orang yang pertama digelar Al-Muqry : Mus'ab bin Umair RA.
30. Orang yang pertama masuk ke dalam syurga : Nabi Muhammad SAW.

Wallahualam
Share:

Sunday, December 27, 2015

UWAIS AL QARNI

Di Yaman, tinggalah seorang pemuda bernama Uwais Al Qarni yang berpenyakit sopak, tubuhnya belang-belang. Walaupun cacat, ia adalah pemuda yang soleh dan sangat berbakti kepadanya Ibunya. Ibunya adalah seorang wanita tua yang lumpuh. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan Ibunya. Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan.

"Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersama dengan kamu, ikhtiarkan agar Ibu dapat mengerjakan haji," pinta Ibunya. Uwais tercenung, perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh melewati padang pasir tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Namun Uwais sangat miskin dan tak memiliki kendaraan.

Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah seeokar anak lembu, Kira-kira untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkinkan pergi Haji naik lembu. Olala, ternyata Uwais membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap pagi beliau bolak balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. "Uwais gila.. Uwais gila..." kata orang-orang. Yah, kelakuan Uwais memang sungguh aneh.

Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi.

Setelah 8 bulan berlalu, sampailah musim Haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kg, begitu juga dengan otot Uwais yang makin membesar. Ia menjadi kuat mengangkat barang. Tahulah sekarang orang-orang apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari. Ternyata ia latihan untuk menggendong Ibunya.

Uwais menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Mekkah! Subhanallah, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya.

Uwais berjalan tegap menggendong ibunya tawaf di Ka'bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka'bah, ibu dan anak itu berdoa. "Ya Allah, ampuni semua dosa ibu," kata Uwais. "Bagaimana dengan dosamu?" tanya ibunya heran. Uwais menjawab, "Dengan terampunnya dosa Ibu, maka Ibu akan masuk surga. Cukuplah ridho dari Ibu yang akan membawa aku ke surga."

Subhanallah, itulah keinganan Uwais yang tulus dan penuh cinta. Allah SWT pun memberikan karunianya, Uwais seketika itu juga disembuhkan dari penyakit sopaknya. Hanya tertinggal bulatan putih ditengkuknya. Tahukah kalian apa hikmah dari bulatan disisakan di tengkuk? itulah tanda untuk Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, dua sahabat utama Rasulullah SAW untuk mengenali Uwais.

Beliau berdua sengaja mencari Uwais di sekitar Ka'bah karena Rasullah SAW berpesan "Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Kamu berdua pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman. Dia akan muncul di zaman kamu, carilah dia. Kalau berjumpa dengan dia minta tolong dia berdua untuk kamu berdua."

"Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu, durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan meminta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah, membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan)." (HR. Bukhari dan Muslim)

CERITA KEHIDUPAN UWAIS AL QORNI

Pemuda bernama Uwais Al-Qarni. Ia tinggal dinegeri Yaman. Uwais adalah seorang yang terkenal fakir, hidupnya sangat miskin. Uwais Al-Qarni adalah seorang anak yatim. Bapaknya sudah lama meninggal dunia. Ia hidup bersama ibunya yang telah tua lagi lumpuh. Bahkan, mata ibunya telah buta. Kecuali ibunya, Uwais tidak lagi mempunyai sanak family sama sekali.

Dalam kehidupannya sehari-hari, Uwais Al-Qarni bekerja mencari nafkah dengan menggembalakan domba-domba orang pada waktu siang hari. Upah yang diterimanya cukup buat nafkahnya dengan ibunya. Bila ada kelebihan, terkadang ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti dia dan ibunya. Demikianlah pekerjaan Uwais Al-Qarni setiap hari.

Uwais Al-Qarni terkenal sebagai seorang anak yang taat kepada ibunya dan juga taat beribadah. Uwais Al-Qarni seringkali melakukan puasa. Bila malam tiba, dia selalu berdoa, memohon petunjuk kepada Allah. Alangkah sedihnya hati Uwais Al-Qarni setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka telah bertemu dengan Nabi Muhammad, sedang ia sendiri belum pernah berjumpa dengan Rasulullah. Berita tentang Perang Uhud yang menyebabkan Nabi Muhammad mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya, telah juga didengar oleh Uwais Al-Qarni. Segera Uwais mengetok giginya dengan batu hingga patah. Hal ini dilakukannya sebagai ungkapan rasa cintanya kepada Nabi Muhammmad saw, sekalipun ia belum pernah bertemu dengan beliau. Hari demi hari berlalu, dan kerinduan Uwais untuk menemui Nabi saw semakin dalam. Hatinya selalu bertanya-tanya, kapankah ia dapat bertemu Nabi Muhammad saw dan memandang wajah beliau dari dekat? Ia rindu mendengar suara Nabi saw, kerinduan karena iman.

Tapi bukankah ia mempunyai seorang ibu yang telah tua renta dan buta, lagi pula lumpuh? Bagaimana mungkin ia tega meninggalkannya dalam keadaan yang demikian? Hatinya selalu gelisah. Siang dan malam pikirannya diliputi perasaan rindu memandang wajah nabi Muhammad saw.

Akhirnya, kerinduan kepada Nabi saw yang selama ini dipendamnya tak dapat ditahannya lagi. Pada suatu hari ia datang mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinyadan mohon ijin kepada ibunya agar ia diperkenankan pergi menemui Rasulullah di Madinah. Ibu Uwais Al-Qarni walaupun telah uzur, merasa terharu dengan ketika mendengar permohonan anaknya. Ia memaklumi perasaan Uwais Al-Qarni seraya berkata, “pergilah wahai Uwais, anakku! Temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa dengan Nabi, segeralah engkau kembali pulang.”

Betapa gembiranya hati Uwais Al-Qarni mendengar ucapan ibunya itu. Segera ia berkemas untuk berangkat. Namun, ia tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkannya, serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi. Sesudah berpamitan sembari mencium ibunya, berangkatlah Uwais Al-Qarni menuju Madinah.

Uwais Ai-Qarni Pergi ke Madinah

Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al-Qarni sampai juga dikota madinah. Segera ia mencari rumah nabi Muhammad saw. Setelah ia menemukan rumah Nabi, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam, keluarlah seseorang seraya membalas salamnya. Segera saja Uwais Al-Qarni menanyakan Nabi saw yang ingin dijumpainya. Namun ternyata Nabi tidak berada dirumahnya, beliau sedang berada di medan pertempuran. Uwais Al-Qarni hanya dapat bertemu dengan Siti Aisyah ra, istri Nabi saw. Betapa kecewanya hati Uwais. Dari jauh ia datang untuk berjumpa langsung dengan Nabi saw, tetapi Nabi saw tidak dapat dijumpainya.

Dalam hati Uwais Al-Qarni bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi saw dari medan perang. Tapi kapankah Nabi pulang? Sedangkan masih terngiang di telinganya pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman, “engkau harus lekas pulang”.

Akhirnya, karena ketaatannya kepada ibunya, pesan ibunya mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi saw. Karena hal itu tidak mungkin, Uwais Al-Qarni dengan terpaksa pamit kepada Siti Aisyah ra untuk segera pulang kembali ke Yaman, dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi saw. Setelah itu, Uwais Al-Qarni pun segera berangkat mengayunkan langkahnya dengan perasaan amat haru.

Peperangan telah usai dan Nabi saw pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi saw menanyakan kepada Siti Aisyah ra tentang orang yang mencarinya. Nabi mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni anak yang taat kepada ibunya, adalah penghuni langit. Mendengar perkataan Nabi saw, Siti Aisyah ra dan para sahabat tertegun. Menurut keterangan Siti Aisyah ra, memang benar ada yang mencari Nabi saw dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Nabi Muhammad saw melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit itu, kepada para sahabatnya., “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih ditengah talapak tangannya.”

Sesudah itu Nabi saw memandang kepada Ali ra dan Umar ra seraya berkata, “suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”

Waktu terus berganti, dan Nabi saw kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khatab. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi saw tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi saw itu kepada sahabat Ali bin Abi Thalib ra. Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar ra dan Ali ra selalu menanyakan tentang Uwais Al Qarni, si fakir yang tak punya apa-apa itu, yang kerjanya hanya menggembalakan domba dan unta setiap hari? Mengapa khalifah Umar ra dan sahabat Nabi, Ali ra, selalu menanyakan dia?

Rombongan kalifah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kalifah itu pun tiba di kota Madinah. Melihat ada rombongan kalifah yang baru datang dari Yaman, segera khalifah Umar ra dan Ali ra mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, khalifah Umar ra dan Ali ra segera pergi menjumpai Uwais Al-Qarni.

Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, khalifah Umar ra dan Ali ra memberi salam. Tapi rupanya Uwais sedang shalat. Setelah mengakhiri shalatnya dengan salam, Uwais menjawab salam khalifah Umar ra dan Ali ra sambil mendekati kedua sahabat Nabi saw ini dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar ra dengan segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada di telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan oleh Nabi saw. Memang benar! Tampaklah tanda putih di telapak tangan Uwais Al-Qarni.

Wajah Uwais Al-Qarni tampak bercahaya. Benarlah seperti sabda Nabi saw bahwa dia itu adalah penghuni langit. Khalifah Umar ra dan Ali ra menanyakan namanya, dan dijawab, “Abdullah.” Mendengar jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Uwais Al-Qarni”.

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais Al-Qarni telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali ra memohon agar Uwais membacakan do'a dan istighfar untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada Khalifah, “saya lah yang harus meminta do'a pada kalian.”

Mendengar perkataan Uwais, khalifah berkata, “Kami datang kesini untuk mohon doa dan istighfar dari anda.” Seperti yang dikatakan Rasulullah sebelum wafatnya. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais Al-Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar ra berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menampik dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”

Fenomena Ketika Uwais Al-Qarni Wafat

Beberapa tahun kemudian, Uwais Al-Qarni berpulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, disana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.

Meninggalnya Uwais Al-Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak kenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais Al-Qarni adalah seorang fakir yang tidak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, disitu selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.

Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, “siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais Al-Qarni? bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai penggembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamanmu.”

Berita meninggalnya Uwais Al-Qarni dan keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya telah tersebar ke mana-mana. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni. Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni disebabkan permintaan Uwais Al-Qarni sendiri kepada Khalifah Umar ra dan Ali ra, agar merahasiakan tentang dia. Barulah di hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi saw, bahwa Uwais Al-Qarni adalah penghuni langit.

Subhanallah
Share:

GAMBARAN RUMAH RASULLULLOH SAW

BEGINI KIRANYA RUMAH ITU
'Umar menangis menyaksikan tubuh yang berbaring miring itu. Lelaki tinggi besar itu tertunduk miris menyaksikan punggung Sang Kekasih Allah tergurat bilur bekas tertekan pelepah kurma yang jadi alas peraduannya.
Sosok agung itu terjaga, tersenyum, dan berkata, "Mengapa engkau menangis ya Ukhayya?"
"Aku teringat Kisra Persia dan Kaisar Romawi", sahut 'Umar sambil menyeka airmatanya, "Mereka duduk bertelekan di atas bantal-bantal lembutnya pada singgasana bermahligai, sementara pelayan hilir bergilir tak henti melayani keperluannya."
"Sedang engkau Ya Rasulallah, sedang engkau..", 'Umar tercekat nyaris tak dapat melanjutkan ucapannya, "Engkau di sisi Allah jauh lebih mulia daripada mereka semua."
Sang Nabi tersenyum kemudian bersabda, "Tidakkah engkau rela wahai 'Umar, mereka mendapatkan dunia sedangkan akhirat menjadi bagian kita?"
Maka sekira 10 tahun kemudian, 'Umar murka ketika para sahabat dipelopori 'Abdurrahman ibn 'Auf berupaya untuk menambah fasilitas bagi Sang Amirul Mukminin. Ibunda kita Hafshah yang ditugasi untuk menyampaikan hal itu, kena semprot Sang Khalifah.
"Hai Hafshah", hardiknya, "Sungguh engkau lebih tahu seperti apa keadaan Rasulullah padahal dia lebih mulia daripada bapakmu. Dan Khalifahnya, Abu Bakr, hidup dalam keadaan yang serupa benar dengan teladannya. Adapun kalian, celaka kalian, kalian berusaha memisahkan aku dari dua orang sahabat yang amat kucinta.. Demi Allah, aku takkan mengubah cara hidupku sampai berjumpa Allah dan kedua kekasihku!"
Maafkan kami ummatmu Ya Rasulallah; yang selalu mengokohkan pondasi bagi dunia di dalam hati, dan membangunnya tinggi-tinggu dengan angan-angan tiada henti..



Share:

Saturday, December 26, 2015

Kiai Jamal dan Tragedi Makkah

== Kiai Jamal dan Tragedi Makkah ==
Saat keperluan wawancara, saya mendapatkan “bonus” sudut pandang di luar yang telah disepakati. Beliau seakan ingin menyadarkan kita terkait tragedi “crane” di Masjidil Haram.
“Apakah tragedi di Makkah itu adalah musibah? Jangan menganggap bahwa Saudi Arabia dan penduduknya itu baik semua,” katanya.
“Wong kiblat Saudi Arabia adalah Amerika,” tandas Kiai Jamal.
Lalu beliau membacakan sebuah hadits yang menandaskan bahwa ada 6 kalangan yang akan masuk neraka sebelum dihisab.
Pertama adalah pejabat yang memerintah dengan kelalimannya.
Kedua, bangsa Arab dengan fanatik butanya.
Ketiga, orang yang berjalan dengan sifat kecongkaannya.
Keempat, pengusaha atau pedagang dengan khianatnya.
Kelima, orang kampung dengan kebodohannya.
Keenam, ulama dengan hasudnya.
Penjelasan agak panjang diulas oleh Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumiddin juz 3 halaman 184.
Khusus poin 2, Kiai Jamal terus mengurai.
Mengapa Saudi tidak mendukung Palestina? Para pengungsi Syuriah justru mendapat suaka dari negara Eropa seperti Jerman, Inggris, Spanyol dan yang lain. Mana keberpihakan negara Timur Tengah?
Dalam pandangan Kiai Jamal, betapa roda ekonomi Saudi Arabia demikian dahsyat. Andaikata mau, mestinya Saudi Arabia menggunakan mata uang Euro agar dolar bisa tertekan. Tapi itu tidak dilakukan negara setempat.
2 jam bersama kiai “spesialis kitab Hikam” ini demikian bermakna. Saudi Arabia adalah tanah bertuah, dan tonggak bagi perkembangan Islam. Namun bagi Kiai Jamal, saat membicarakan negara tersebut hendaknya jangan tersandera dengan masa lalu.
Kaum muslimin harus kritis, namun jangan kehilangan kesantunan dalam memberikan catatan.
Terimakasih dan salam ta'dzim, KH M Djamaluddin Ahmad.
Share:

Sejarah Syam'un Al-Ghazi (Samson)

(Sejarah seorang pejuang Allah yang bernama Syam'un Al-Ghazi (samson) dan hubungannya dengan Asal Mula Pahala Ibadah 1000 Bulan/Lailatul Qadar)
Mengapa lebih baik dari 1000 bulan? Atau, mengapa 1000 bulan? Atau adakah kisah tentang 1000 bulan?
Kisah tentang 1000 bulan, berawal dari seorang Nabiyullah yang bernama Nabi Syam’un al-Ghazi as. Nabi dari kalangan Bani Israil. Beliau adalah hakim ketiga terakhir pada zaman Israel kuno.
Nabi Syam’un al-Ghazi As, memiliki beberapa nama; dalam bahasa Arab, beliau disebut dengan Syamsyawn atau Syam'un. dalam bahasa Ibrani, disebut Šimšon; sedangkan dalam bahasa Tiberias, disebut Šhimšhôn; lalu dalam Alkitab Nasrani,disebut Samson. Nama Syam’un sendiri artinya "yang berasal dari matahari”, sedangkan al-Ghozi, artinya “yang berasal dari Ghazi” (Ghaza,Palestina sekarang).
Suatu ketika Nabi Muhammad saw, Berkumpul bersama para sahabat dibulan Suci Ramadhan. Nabi Muhammad SAW, terlihat tersenyum sendiri, lalu ditanya oleh para sahabatnya “Apa yang membuatmu tersenyum wahai Rasulullah”" Beliau menjawab, “Diperlihatkan kepadaku dihari akhir, ketika seluruh manusia dikumpulkan dipadang mah’syar, ada seorang Nabi yang membawa pedang dan tidak mempunyai pengikut satupun, masuk ke dalam surga, dia adalah Syam'un”.
Kemudian Rasulullah bercerita tentang seorang Nabi bernama Sam’un Al Ghozi AS, beliau adalah Nabi yang berasal dari Bani Israil yang diutus di tanah Romawi. Nabi Sam’un Ghozi AS berperang melawan bangsa yang menentang Ketuhanan Allah SWT. Nabi Syam’un al-Ghozi as. adalah seorang pahlawan berambut panjang yang memiliki kemukjizatan dapat melunakkan besi, dan dapat merobohkan istana. Syam’un memiliki senjata semacam pedang yang terbuat dari tulang rahang unta bernama Liha Jamal, dengan pedang itu dia dapat membunuh ribuan orang kafir. Siapapun musuh yang berhadapan dengannya, pasti akan hancur dengan pedang ajaibnya. Tidak hanya itu, bahkan ketika dia merasa haus dan lapar, dengan perantara pedangnya pula Allah memberikan makanan dan minuman.
Syam'un seorang muslim dan seorang yang ahli ibadah yang sangat disegani oleh kaum kafir. Sudah tak terhitung lagi orang kafir yang mati di tangannya. Selain itu, Syam'un juga ahli ibadah dan tercatat ia sanggup beribadah selama 1000 bulan dengan shalat malam dan siangnya berpuasa, dimana selama 1000 bulan tak pernah lepas dari shalat malam dan siangnya selalu berpuasa.
Samson adalah seorang pembela agama tauhid (meng Esa kan 1 tuhan / ALLAH), berperang melawan kaum kafir selama 1000 bulan, hanya berbekal tulang dagu unta sebagai senjata, tidak memiliki senjata lain. Setiap kali menghantam kaum kafir dengan janggut untanya, terbunuhlah banyak kaum kafir dalam jumlah yang tidak terhitung.
فَإِذاَ عَطَسَ يَخْرُجُ مِنْ مَوْضِعِ الأَسْناَنِ ماَءُ عَذَبٍ فَيَشْرِبَهُ , وَإِذاَ جاَعَ يَنْبُتُ مَنْهُ لَحْمٌ فَيَأْكُلَهُ , فَكاَنَ عَلَى هَذاَ كُلَّ يَوْمٍ حَتَّى مَضَى مِنْ عُمْرِهِ أَلْفَ شَهْرٍ وَهِىَ ثَلاَثُ وَثَمَانُوْنَ سَنَةً وَأَرْبَعَةُ أَشْهُرٍ , فَعَجَزَ الكُفاَرُ عَنْ رَدِّهِ , فَقاَلُوْا ِلإِمْرَأَتِهِ وَهِىَ كاَفِرَةٌ إِنّاَ نُعْطِيْكِ أَمْواَلاً كَثِيْرَةً إِنْ قَتَلْتِ زَوْجَكِ , قاَلَتْ أَناَ لاَأَقْدِرُ عَلَى قَتْلِهِ
Dengan hanya bersenjatakan tulang rahang seekor unta yang di bentuk menyerupai sebuah pedang pendek yang tajam, Nabi berperang melawan bangsa yang menentang Allah SWT, dengan penuh keberanian dan selalu dapat mengalahkan mereka. Ketangguhan dan keperkasaan Nabi Sam’un dipergunakan untuk menentang penguasa kaum kafirin saat itu, yakni raja Israil. Menghadapi kesaktian Nabi Syam’un al-Ghozi as, membuat para kafirun kewalahan. Mereka mencari jalan untuk bisa menundukkannya. Dengan segala kehebatannya itu, ia dibenci oleh para musuh, terutama dari golongan orang kafir. Akhirnya, dibuatlah rencana untuk membunuh Syam’un. Akhirnya sang raja Israil mencari jalan untuk menundukkan Nabi Sam’un. Berbagai upaya pun dilakukan olehnya, sehingga akhirnya atas nasehat para penasehatnya diumumkanlah, barang siapa yang dapat menangkap Sam’un Ghozi, akan mendapat hadiah emas dan permata yang berlimpah. Akhirnya ide licik-pun ditemukan. Mereka menawarkan hadiah berupa uang dan perhiasan yang berlimpah kepada istri Nabi (Istri samson), dengan syarat ia bersedia melumpuhkan suaminya. Istri Nabi yang ternyata seorang kafir, sangat tergiur oleh hadiah itu. Mereka kemudian memanfaatkan Istri Syam’un, untuk ikut membantu membunuh Syam’un. Sam’un Ghozi AS terpedaya oleh isterinya dan dikhianati istrinya sendiri dan pada akhirnya istrinya mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT. Setelah dirayu dengan imbalan yang menggiurkan, sang istri mengiyakan ajakan kaum kafir untuk membunuh Syam’un suaminya sendiri karena ada iming-iming harta benda yang banyak, si istri akhirnya mau melakukan kejahatan itu.
فَقاَلُوْا نُعْطِيْكِ حَبْلاً شَدِيْداً فَشَدِّى بِهِ يَدَيْهِ وَرِجْلَيْهِ فىِ نَوْمِهِ وَنَحْنُ نَقْتُلُهُ , فَشَدَتْهُ المَرْأَةُ فىِ نَوْمِهِ فاَسْتَيْقَظَ فَقاَلَ مَنْ شَدَّنِى ؟ فَقاَلَتْ شَدَدْتُ ِلأَجْرِبَكَ فَجَدَبَ يَدُهُ فَقَطَعَ الحَبَلُ , ثُمَّ جاَءَ الكُفاَرُ بِسِلْسِلَةٍ فَشَدَتْهُ المَرْأَةُ بِهاَ فاَسْتَيْقَظَ , فَقاَلَ مَنْ شَدَّنِى ؟ قاَلَتْ أَناَ شَدَدْتُ ِلأَجْرِبَكَ فَجَدَبَ يَدُهُ فَقَطَعَ السِّلْسِلَةُ
Maka orang kafir memberikan ide agar dia mengikat tangan dan kaki Syam’un sewaktu tidur, untuk kemudian akan dibunuh dengan beramai-ramai.
Para pembesar2 Kafir berkata,
"Kami akan memberimu seutas tali kuat, ikatlah tangan dan kakinya ketika dia tidur, nanti setelah itu kamilah yang bertindak untuk membunuhnya."
Pada hari pertama
Istri Syam'un gagal karena ketiduran yang disebabkan karena suaminya terlalu lama mengerjakan shalat malam. Lama waktunya itu sehingga membuat istri Syam'un tak kuasa menahan kantuk yang amat sangat. Memang Syam'un tidurnya hanya sedikit saja dalam semalam. Dimana malam-malamnya hanya dipergunakan untuk beribadah kepada Allah SWT.
Keesokan harinya, istri Syam'un lapor kepada kaum kafir quraisy bahwa dia belm berhasil mengikat tangan dan kaki suaminya. Mereka tidak mempermasalahkan hal ini.
Pada hari kedua
Istri Syam'un berhasil mengikat suaminya ketika tidur dengan seutas tali yang kuat. Tatkala Syam'un bangun dan ingin beribadah kepada Allah SWT, ia terkejut karena kedua kakinya terikat.
"Wahai istriku, siapakah yang mengikatu dengan tali ini?" tanya Syam'un kepada istrinya.
"Aku yang mengikat, hanya sekedar mengujimu sampai sejauh mana kekuatanmu," ujar istrinya.
Syam’un dengan mudah dapat melepaskan tali yang mengikatnya dengan satu ucapan doa.Kemudian Syam'un lalu bergegas menuju tempat peribadatannya. Maka gagallah rencana pembunuhan pada hari kedua itu. Namun, setelah itu, musuh-musuh kafir datang lagi dengan membawa rantai dan istri Syam'um siap mengikat suaminya lagi pada keesokan malamnya.
Pada hari ketiga
Istri Syam'un di hari ketiga itu berhasil lagi mengikat suaminya dengan rantai yang diberikan oleh orang-orang kafir quraisy.
"Wahai istriku, siapakah yang mengikatku kali ini?" tanya Syam'un dengan nada agak marah ketika bangun dari tidur.
"Aku yang mengikatnya, sekedar untuk mengujimu," jawab istrinya.
Namun, dengan sekali hentakan Syam’un dapat menghancurkan rantai tersebut.
Rahasia Kekuatan Syam'un
Lalu Syam'un segera menarik tangannya dan memotong rantai itu. Kemudian istrinya pun segera membujuk suaminya agar mau menceritakan rahasia kekuatan tubuh yang dimiliki suaminya. Akhirnya Syam'un bercerita juga, jika sebenarnya ia adalah seorang wali dari sekian banyak WALIYULLAH yang hidup di dunia ini.
Sam’un berkata “Wahai istriku aku wali diantara wali kekasih Allah, segala perkara dunia ini tidak ada yang sanggup mengalahkan diriku, aku punya rambut panjang ini, ketahuilah bahwa tidak ada seorang pun yang mampu mengalahkanku dalam perkara dunia kecuali rambutku ini," jelas Syam'un.
Syam'un memang memiliki rambut yang panjang dan panjangnya digambarkan bahwa ujung rambutnya akan menyentuh tanah saat Syam'un berdiri.
Karena sudah mengetahui kelemahan suaminya, akhirnya pada saat syamun tidur mulailah istrinya mengikat tangan Syam'un dengan 4 helai rambutnya dan mengikat pula kakinya dengan 4 helai rambut milik Syam'un, sementara ia tetap dalam tidurnya.
Setelah bangun, Syam'un bertanya,
"Wahai istriku, siapakah yang mengikatku ini?"
"Aku, untuk mengujimu," jawab istrinya yang mulai ketakutan.
Setelah itu Syam'un berusaha dengan sekuat tenaga untuk melepaskan ikatan itu, namun dia tidak berdaya untuk memotongnya. Si istri langsung saja memberitahukan kepada kaum kafir tentang hal ini. Nabi Syam’un al-Ghozi as lalu dibawa ke istana kehadapan raja para kafirun. lalu diikat pada tiang utama istana dan dipertontonkan kepada khalayak istana. Mulailah mereka memotong kedua telinga, bibir, kedua tangan dan kakinya. Tidak hanya itu, Nabi juga disiksa dengan dibutakan kedua matanya, Mereka menyiksa Nabi dengan tujuan agar beliau mati secara perlahan-lahan. Istrinya yang jahat, ikut pula menyaksikan penyiksaan tersebut tanpa rasa belas kasihan.
Astaghfirullah sungguh biadab orang kafir.
Pertolongan Allah SWT Datang
Begitu hebatnya siksaan tersebut, membuat Allah SWT lewat perantaraan malaikat jibril berbicara dengan suaranya yang hanya bisa didengar oleh Nabi Syam’un al-Ghozi as, “Hai Syam’un apa yang engkau inginkan, Aku akan menindak mereka.”
Nabi menjawab, “Ya Allah, berikanlah kekuatan kepadaku hingga aku mampu menggerakkan tiang istana ini, dan akan kuhancurkan mereka dengan kekuatan dari Allah !. Bismillah. La haula wa la quwwata illa billah!
Do’a Nabi Syam’un al-Ghazi as diKabulkan Allah SWT. Allah SWT memberi kekuatan kepada Syam'un yang kekuatannya tidak bisa dibayangkan dan melebihi kekuatan dari rambutnya sendiri. Maka dengan seizin Allah, Nabi Syam’un al-Ghazi as. menggoyangkan tiang istana tersebut, Syam'un hanya beringsut sedikit saja, putuslah tali rambut itu bahkan dan tiang itupun rubuh menimpa raja bersama seluruh khalayak istana termasuk istrinya yang durhaka dan orang-orang yang telah menyiksanya. tiangnya juga ikut roboh dan hancur lebur. istana yang dijadikan tempat pembantaian itu juga turut hancur dan atapnya menimpa orang-orang kafir dan semuanya mati. Begitu juga dengan istrinya, juga ikut tertimpa reruntuhan gedung istana raja kafir. Mereka semua mati tertimpa reruntuhan bangunan istana dan terkubur didalamnya. Hanya Syam’un sendiri yang selamat, lalu Allah mengembalikan seluruh anggota badan yang telah terpotong dan menyembuhkan segala sakitnya.
فَبَعْدَ ذَلِكَ عَبَدَ اللهَ أَلْفَ شَهْرٍ مَعَ قِياَمِ لَيْلِهاَ وَصِياَمِ نَهاَرِهاَ , فَضَرَبَ بِالسَّيْفِ فىِ سَبِيْلِ اللهِ
Setelah peristiwa itu, Nabi Syam’un al-Ghozi as. bersumpah kepada Allah SWT akan menebus semua dosanya dengan berjuang menumpas semua kebatilan dan kekufuran selama 1000 bulan tanpa henti. Nabi menyibukkan diri dalam beribadah kepada Allah. Malam hari dilalui dengan memperbanyak shalat malam, sedangkan siangnya beliau berpuasa. Nabi menjalankan ibadahnya selama seribu bulan hingga ajalnya tiba.
Setelah mendengar kisah Nabi Syam’un al-Ghozi as, para sahabat Nabi Muhammad saw menangis terharu, bertanya sahabat kepada Nabi Muhammad SAW. “Ya Rasullulah, tahukah baginda akan pahalanya?”
Jawab Rasulullah, “Aku tidak mengetahuinya.”
فَأَنْزَلَ اللهُ جِبْرِيْلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ بِهَذِهِ السُّوْرَةِ (القَدْرِ) وَقاَلَ ياَمُحَمَّدْ أَعْتَيْطُكَ وَأُمَّتَكَ لَيْلَةَ القَدْرِ العِباَدَةُ فِيْهاَ أَفْضَلُ مِنْ عِباَدَةِ سَبْعِيْنَ أَلْفِ شَهْرٍ
Setelah Rasulullah selesai berkisah, Allah SWT menyuruh Malaikat Jibril datang kepada Nabi Muhammad dan menurunkan Surat Al Qadr.
"Hai Muhammad, Allah memberi Lailatul Qadar kepadamu dan umatmu, ibadah pada malam itu lebih utama daripada ibadah 1000 bulan," ujar Malaikat Jibril.
Allah SWT berfirman: Surat Al-Qadar ayat 1-5:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ١
وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ٢
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ٣
تَنَزَّلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ ٤
سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ٥
Artinya:
1. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.
2. dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu?
3. malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
4. pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.
5. malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar.
Mendengar berita itu, Rasulullah SAW menyuruh sahabat-sahabatnya untuk berburu malam Lailatul Qadar agar mendapatkan pahala seperti yang Allah AWT berikan kepada Waliyullah Syam'un Al-Ghazi.
Apabila fajar telah terbit di malam qadar, maka malaikat Jibril berkata: Wahai para malaikat, kumpul kemari dan kumpul kemari.., Para malaikat Ya Jibril apa yang Allah perbuat untuk kaum muslimin di malam ini dari ummat Nabi Muhammad SAW ? Jibril Sesungguhnya Allah memandang kepada mereka dengan penuh kasih sayang, Allah memaafkan serta ngampuni dosa-dosa mereka, kecuali empat kelompok. Para malaikat Siapa empat kelompok itu ? Jibril Pertama, orang yang membiasakan diri minum arak, mabuk-mabukan. Kedua, Orang yang durhaka kepada orang tua. Ketiga, orang yang memutus silaturrahmi. Keempat, orang yang bertengkar, yaitu pertengkaran dengan sesama yang belum damai dalam jangka waktu tiga hari. Subhanallah..., Maha suci ALLAH.
sumber:
-DurrAtun Nasihin" pada Bab Lailatul Qadr.
-kitab Muqasyafatul Qulub.
-Kitab Qishashul Anbiyaa (Al-Imam Ghazali).
Share:

Klasifikasi Ilmu Menurut Imam Al-Ghazali Sebagai Asas Pendidikan Islam

Pendahuluan
Prof. Syaed Muhammad Naquib al-Attas menjelaskan tujuan pendidikan adalah untuk meningkatkan intelektual, dan keseimbangan jiwa individu peserta didik yang lebih baik, bukan saja sebagai warga negara, akan tetapi menjadi manusia bagi dirinya sendiri .
Idealnya pendidikan memberikan andil besar dalam memberi solusi terhadap krisis kemanusiaan yang kini melanda kehidupan. Mulai pendidikan, kita ingin menghasilkan manusia yang jujur, bersemangat, pekerja keras, tidak malas, berani, kreatif, cinta kebersihan, toleran dan sebaginya.
Namun pada kenyataanya, akhir-akhir ini pendidikan terasa mandul dalam mencetak manusia seutuhnya sebagaimana tujuan pendidikan pada awalnya. Orientasi pendidikan hanya berkutat pada pencapaian kesuksesan kehidupan bermasyarakat dan ekonomi saja. Di sisi lain, kerusakan moral semakin meningkat. Mulai dari merebaknya pergaulan bebas dan perzinahan, narkoba, tawuran antar pelajar sampai pada taraf pembunuhan. Berita tentang kenakalan peserta didik setiap hari menjejali mata dan telinga kita.
Dampak modernisasi dan paradigm dikotomis dalam dunia pendidikan membuat manusia mengedepankan aspek kogniti dari pada aspek afektif dan psikomotorik; pendidikan yang terlampau mengutamakan kecerdasan intelektual, ketrampilan dan pancaindra, dan kurang memperhatikan kecerdasan emosional, spiritual, sosial dan berbagai kecerdasan lainnya menyebabkan out put dan out come pendidikan parsial.
Pendidikan yang terlalu kognitif telah mengubah orientasi belajar parasiswa menjadi semata-mata meraih nilai tinggi. Hal ini cenderung mendorong peserta didik untuk mengejar nilai dengan tidak jujur, seperti mencontek, menjiplak dan sebagainya. Sistem pendidikan seperti ini membuat manusia berpikir secara parsial dan dikotomis.
Padahal, pada hakikatnya pendidikan dualisme ini tidak dikenal dalam dunia pendidikan Islam. Hal ini terbukti dengan kehadiran para ulama’ dahulu sekaligus menjadi ilmuwan semisal Al-Kindi merupakan seorang filsuf sekaligus agamawan. Ibn Sina, selain ahli dalam bidang kedokteran, filsafat, psikologi, dan musik, beliau juga seorang ulama. Al-Khawarizimi adalah ulama yang ahli matematika. Ibn Rusyd, seorang faqih yang mampu menghasilkan karya magnum opus-nya Bidayat Al-Mujtahid, yang mampu mensinergikan filsafat dan ilmu fiqh,Ibn Khaldun dikenal sebagai ulama peletak dasar sosiologi modern dalam magnum opus-nya Al-Muqaddimah, yang sampai sekarang banyak ahli yang mengkajinya baik dari dari kalangan ummat Islam maupun para orientalisme.
Imam al-Ghazali, walaupun belakangan popular karena kehidupan dan ajaran sufistiknya, sebenarnya beliau telah melalui berbagai bidang ilmu yang diketahuinya, mulai dari ilmu fiqh, kalam, falsafah, hingga tasawuf.
Meski begitu dalam satu karya al-Ghazali tidak melulu membahas satu bahasan keilmuan saja namun berbagai ilmu terkadang dibahas dalam satu kitab. Semisal Ihya’ Ulumuddin. Dalam kitab tersebut membahas tentang konsep ilmu, konsep Aqidah, fiqh dan lainnya. Hal ini mengindikasikan bahwa al-Ghazali adalah seorang representatif ulama’ integral dengan keilmuanya.
Pandangan terhadap fenomena pendidikan di atas memberikan inspirasi pada penulis untuk menguraikan pentingnya konsep klasifikasi ilmu al-Ghazali sebagai azaspendidikan Islam.

Biografi Imam al-Ghazali
Nama lengkapnya Abu Hamid bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad al-Ghazali al-Thusi. Beliau lahir pada tahun 450 H/1058 M , di desa Ghazlah Thabran, wilayah Khurasan Iran.
Al-Ghazali dikenal sebagai sosok intelektual muslim yang cerdas, brilian, tawadhu, bijaksana, sangat mencintai dan haus terhadap ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, al-Ghazali digelari sebagai Hujjatul Islam, karena kepiawaiannya dan keahliannya dalam berbagai disiplin ilmu (multi disipliner).
Ayahnya seorang sufi yang saleh dengan profesi menjadi pemintal wol. Al-Ghazali pertama belajar Alqur'an langsung dari ayahnya. Sepeninggal ayahnya, al-Ghazali beserta saudaranya, Ahmad dititipkan pada teman ayahnya, Ahmad bin Muhammad bin ar-Razikani, seorang sufi besar untuk dibimbing dan dipelihara.
Kemudian, oleh kawan ayahnya itu, al-Ghazali dimasukkan ke sebuah sekolah. Ditempat ini, al-Ghazali belajar ilmu fiqh kepada Yusuf an-Nassaj yang juga seorang sufi. Setelah tamat, ia melakukan pelajarannya ke Kota Jurjan
Beberapa tahun kemudian, ia pergi ke Naisabur dan belajar kepada Imam al-Juwauini, yang dikenal ImamHaramain, seorang tokoh aliran Asy'ariyyah.Al-Ghazali kemudian dipercaya untuk menggantikan al-Juwaeni mengajar setiap kali gurunya berhalangan.Dari Naisabur, ia pindah ke Muaskar dan berkenalan dengan Nidzhamul Mulk, Perdana Menteri Bani Saljuk.
Nidzhamul Mulk mengangkat al-Ghazali sebagai pengajar pada tahun 1091 M. di Madrasah Nizhamiyyah, Baghdad yang didirikan oleh Nizhamul Mulk sendiri. Di kota inilah al-Ghazali menjadi terkenal, halaqah pengajiannya semakin ramai. Disamping mengajar, beliau juga menyusun makalah-makalah yang isinya membantah pikiran-pikiran golongan batiniah, golongan filosof dan lain-lain.
Pada tahun 1095 M, al-Ghazali meninggalkan kedudukan yang terhormat di Baghdad, menuju Mekah. Hal ini al-Ghazali lakukan karena ia tertimpa keragu-raguan tentang kegunaan pekerjaannya, sehingga ia terkena penyakit yang tidak bisa diobati psiko theraphy. Kemudian untuk beberapa waktu al-Ghazali menetap di Damaskus, mengisolir diri, merenung, membaca, menulis dan berkontemplasi sebagai seorang sufi. Di puncak menara mesjid Jami’ Damaskus, al-Ghazali memperoleh kesempurnaan tashawwuf-nya. Pada tahu yang sama, beliau mengarang sebuah kitab yang munomental hingga saat ini, kitab Ihya’ Ulumuddin .
Al-Ghazali tinggal di Damaskus kurang lebih dua tahun. Ditempat ini pula al-Ghazali memiliki banyak kesempatan menulis karya ilmiah. Karena desakan para penguasa, dalam hal ini Muhammad saudara Barkijaruq. Al-Ghazali mau kembali mengajar di sekolah Nizhamiyahdi Naisabur pada tahun 1106 M. pekerjaan ini pun hanya berlangsung dua tahun. Setelah itu, ia kembali ke Thus. Kemudian, beliau mendirikan sebuah sekolah untuk para fuqaha dan sebuah biara untuk para mutashawwifun. Beliau meninggal pada tahun 505 H/1111 M dalam usia 54 tahun di kota Thus.
Klasifikasi Ilmu al-Ghazali
Ilmu secaraumum menurut imam al-Ghazali terbagi menjadi menjadi dua klasifikasi diantaranya: ilmu muamalahdan ilmu mukasyafah. Ilmu muamalahdikelompokkan menjadi ilmu fardhlu ‘aindan ilmu fardhlu kifayah. Sedangkan ilmu fardhu 'ain itu terdiri dari ilmu syar'iyahsaja.Ilmu fardhlu kifayah itu ada yang syar’iah ada yang ilmu ghoyru syar'iyah. Yang ilmu ghoyru syar’iyah bagi menjadi tiga ada yang mahmudah, madzmumah dan ilmu mubah. Ilmu yang madzmumah bukan termasuk fardhlu kifayah.
Sebenaranya al-Ghazali masih memperinci lebih detail lagi tentang kalisifikasinya. Namun penulis menguraikan klasifikasi al-Ghazali dalam bidang-bidang pokok. Sebab hal tersebut cukup sebagai dasar azas pendidikan Islam. Pembagaian ilmu fardhlu 'ain dan fardhlu kifayah tidak sama dengan dikotomi ilmu, sebab ia hanyalah pembagaian hirarki ilmu pengetahuan berdasarkan kepada tingkat kebenarannya. Kalsifikasi al-Ghazali ini tetap harus dilihat dalam sudut pandang yang integral, dimana yang pertama merupakan azas dan rujukan bagi yang kedua.

Ilmu Muamalah
Ilmu Muamalah adalah ilmu yang daripadanya dituntut mengetahui serta mengamalkannya. Ilmu Muamalah terbagi kepada ilmu lahir yakni ilmu mengenai amalan anggota badan dan ilmu batin yakni ilmu mengenai amalan-amalan hati. Ilmu yang berjalan atas anggota- anggota badan menjadi adat dan ibadah. Sedangkan bagian batin yang berhubungan dengan keadaan hati dan akhlak jiwa terbagi menjadi tercela dan terpuji. Dengan kata lain ilmu Muamalah adalah ilmu mengenai keadaan hati yang mengajarkan nilai-nilai mulia dan melarang tindakan yang melanggar kesusilaan pribadi dan etika sosial syari’ah.
Ilmu muamalah terdiri dari ilmu fardhlu 'ain dan ilmu fardhlu kifayah. Ilmu fardhlu 'ain sendiri hanya membahas ilmu syariah. Sedangkan ilmu fardhlu kifayah memiliki 4 klasifikasi yaitu: ilmu syari'yah, ilmu ghoyru syari'yah. Ilmu ghoyru syaii'yah terbagi menjadi mahmudah, madzmumahdan ilmu mubah. Ilmu madzmumah dan ilmu mubah tidak masuk dalam tidak masuk dalam pembahasan dalam fardhlu kifayah.
Ilmu fardhu kifayah ghoyru syari'yah ialah ilmu yang bukan syari'yah namun sangat dibutuhkan terkait dengan kemaslahatan dunia. Dalam hal ini imam al-Ghazali memberikan contoh: Kedokteran(Al-Thib), Matematika (Hisab), ilmu teknik (shana’at), pertanian (al-falah), pelayaran (al-Hiyakah), politik (al-Siyasah), bekam (al-Hijamah) dan menjahit (al-Khiyath).
Al-Ghazali beralasan bahwa ilmu kedokteran penting bagi kemaslahatan masyarakat sebab ilmu kedokteran dibutuhkan dalam kesehatan.Begitu pula ilmu matematika sangat dibutukan dalam kehidupan sehari-hari semisal dalam muamalah perdagangan, pembagian waris, washiat dal lain-lainnya.Ilmu-ilmu di atas menurut al-Ghazali apabila tidak ada satu dari kelompok suatu mayarakat yang mempelajari, maka semua masyarakat yang ada mendapatkan dosa. Al-Ghazali mencontohkan apabila satu kelompok masyarakat tidak ada yang mempelajari ilmu bekam, maka banyak orang yang terkena penyakit, hal ini yang kemudian akan mempercepat kerusakan.
Para ulama’ dalam memposisikan ilmu fardhlu 'ain sesuai dengan bidangnyamasing-masing. Misal: para mutakallimun berasumsi bahwa ilmu kalam (ilmu tauhid) adalah ilmu fardhlu 'ain sebab, bagi mereka dengan ilmu kalam seseorang dapat menemukan mengetahui ketauhidan Dzat dan sifat Allah. Sementara itu para Fuqaha’ bahwa ilmu fiqh adalah ilmu fardhlu 'ain sebab dengan fiqh seseorang dapat beribadah dan mengetahui perkara halal dan haram serta mengetahui perkara yang haram dan yang halal dalam bermuamalah.
Sedang ilmu fardhlu kifayah adalah ilmu yang wajib dipelajari oleh sebagian masyarakat Islam, bukan seluruhnya. Dalam fardhlu kifayah, kesatuan masyarakat Islam secara bersama memikul tanggung jawab kefardhluan untuk menuntutnya.

Ilmu Mukasyafah
Dalam ilmu Mukasyafah, Imam al- Ghazali menjelaskan bahwa ilmu ini adalah puncak dari semua ilmu karena berhubungan dengan hati, ruh, jiwa dan pensucian jiwa. Ilmu diibaratkan seperti cahaya yang menerangi hati seseorang dan mensucikan dari sifat-sifat tercela. Dengan membuka cahaya itu, maka perkara dapat diselesaikan, didengar, dilihat dan dibaca yang pada akhirnya dapat membuka hakikat ma’rifat dengan dzatullah subhannahu wa ta’ala. Ilmu ini adalah puncak ilmu yang dimiliki para siddiqun dan muqarrabun.
Merekabisa mengetahui hakekat dan makna kenabian, wahyu, serta lafadznya malaikat, perbuatan setan kepada manusia, cara penampakan malaikat kepada Nabi,cara penyampaian wahyu kepada Nabi,mengetahui seisi langit dan bumi, mengetahui hati dan bercampurnya setan dengan malaikat, mengetahui sorga dan neraka, adzab kubur, shirath, mizan, dan hisab. Mengetahui sebuah makna pertemuan dengan Allah SWT dengan melihat wajah-Nya Yang Maha Mulia, dsb. Inilah ilmu yang tidak tertulis di dalam buku dan tidak dibicarakan kecuali ahlinya saja yang bisa merasakannya. Di lakukan dengan cara berdzikir dan secara rahasia. Ilmu ini adalah ilmu samar.

Pendidikan Islam dan Problematikanya
1. Definisi Pendidikan Islam
Istilah “pendidikan” dalam konteks Islam lebih banyak dengan menggunakan istiah “al-tarbiyyah, al-ta’lim dan al-ta’dib”. Setiap istilah ini memiliki makna yanng berbeda, karena perbedaan teks dan konteks kalimatnya, walaupun dalam hal tertentu, istilah-istilah tersebut mempunyai kesamaan.
Menurut Mushtofa al-ghaylani, tarbiyyah lebih bermakna penanaman akhlak yang mulia pada jiwa yang sedang tumbuh dengan cara memberi petunjuk nasihat, sehingga ia memiliki potensi-potensi dan kompentensi jiwa yang mantap, yang membuahkan sifat-sifat bijak, baik cinta akan kreasi dan berguna bagi tanah airnya.
Pengertian ta’lim menurut Abul Fatah Jalal sebagai proses pembentukan pengetahuan, pemahaman, pengertian, tanggung jawab dan penanaman amanah, sehingga terjadi takziyyah (penyucian) atau pembersihan diri manusia dari segala kotoran dan menjadikan diri manusia berada dalam suatu kondisi yang memungkikan untuk menerima al-hikmah serta mempelajari segala apa yang bermanfaat baginya dan yang tidak diketahui.
Ta’dib sebagai istilah yang paling mewakili dari makna pendidikan berdasarkan Al Qur’an dan Al Hadits dikemukakan oleh Syed Naquib Al Attas. Al Attas memaknai pendidikan dari hadits.
Al-Attas meng-klaim bahwa konsep ta’dib adalah konsep paling representatif mewakili pendidikan Islam, alasan al-Attas adalah “struktur konsep ta’dib sudah mencakupunsur-unsur ilmu (‘ilm), instruksi (ta’lim) dan pembinaan yang baik (tarbiyah)sehingga tidak perlu lagi dikatakan bahwa konsep pendidikan Islam adalah sebagaimana terdapat dalam tiga serangkai konsep tarbiyah, ta’lim, ta’dib.
Konsep tarbiyah pada saat ini telah mengalami reduksi dan akhirnya memiliki kesamaan arti dengan konsep pendidikan Barat. Mengingat istilah tarbiyah adalah suatu terjemahan yang jelas dari istilah “education” menurut artian Barat. Meskipun para penganjur penggunaan istilah tarbiyah terus membela istilah itu yang mereka katakan sebagai dikembangkan dari al-Qur’an, pengembangannya didasarkan atas dugaan belaka. Dengan kata lain, menurut al-Attas, hal inimengungkapkan ketidak sadaran mereka atas struktur semantik sistem konseptual al-Qur’an.

2. Problem Pendidikan Islam
Tantangan yang dihadapi oleh dunia pendidikan Islam saat ini begitu kompleks.Diantara salahsatunya ialah Pendidikan model materialistis. Pendidikan demikian hanya menganggap pendidikan sebagai investasi rekayasa sosial yang akan membentuk kembali tatanan sosial-ekonomi. Pada akhirnya pendidikan dijadikan mobilisasi sosial-ekonomi individu atau negara.
Dominasi sikap yang seperti ini di dalam dunia pendidikan telah melahirkan patologi psiko-sosial, terutama di kalangan peserta didik dan orang tua, menurut Pof SM. Al-Attas sebagai “penyakit diploma”, yaitu usaha dalam meraih suatu gelar pendidikan bukan karena kepentingan pendidikan itu sendiri, malainkan karena nilai-nilai ekonomi dan sosial.
Disamping perencanaan yang buruk dan cara penenganan yang salah, keadaan seperti ini sebenernya bersumber dari kebingungan intelektual dan hilangnya identitas kebudayaan yang disebabkan oleh pengaruh sekularisasi yang berkesinambungan konsep negara ala Barat. Problem terberatdalamdunia Islam itu ada dua. Pertama dikotomi Ilmu, yang kemudian berdampak pada dualisme pendidikan.Yang terakhir ini adalah problem yang kedua.

Dikotomi Ilmu
Dikotomiilmu dipahami sebagai pemisahan antara ilmu dan agama yang kemudian berkembang menjadi fenomena dikotomik-dikotomik lainnya, seperti dikotomi ulama dan intelektual, dikotomi dalam dunia pendidikan Islam dan bahkan dikotomi dalam diri muslim itu sendiri (split personality) .
Meskipun dikotomi ini adalah problem kontemporer namun keberadaannya tentu tidak lepas dari proses historisitas yang panjangsehingga bisa muncul sekarang ini. Dikotomi ilmu muncul bersamaan dengan pergolakan peradaban Barat.
Dalam kajian historis, dikotomi ilmu mulai muncul bersamaan dengan masa renaissance di Barat. Berawal dari perlawanan masyarakat intelektual Barat terhadap dominasi gereja terhadap sosio-relegius dan sosio-intelektual di Eropa. Gereja kala itu melembagakan ajaran-ajaran Kristen dan mejadikannya sebagai penentu kebenaran ilmiah. Akibatnya, temuan-temuan ilmiah yang bertentangan dengan doktrin-doktrin tersebut harus dibatalkan demi supremasi gereja. Copernicus danGalileo Galilei yang dituduh murtad, bid‘ah dan atheis karena berpendapat bahwa bumi mengelilingi matahari yang bertentangan dengan doktrin agama. Maka keduannya terkena hokum Inquisisi dengan dibunuh.
Karena arus modernisasi yang tak terbendung, maka teolog Barat menafsirkan bible dengan tafsiran baru. Oleh karena itu, maka bergulirlah gagasan sekularisasi. Tafsiran baru ini menolak adanya alam agamis yang lebih bagus dari pada alam ini. Kesimpulannya, gagasan sekularisasi muncul karena ketidak sanggupan doktrin dan dogma gereja Keristen untuk berhadapan dengan peradaban Barat yang terbentuk dari bebrapa unsur. Intidari sekuresasi adalah proses pemisahan aktifitas dunia dengan agama.
Satu dari tiga komponen proses sekulerisasi telahmenjadi azas epistemology Barat yaitu pengosongan nilai-nilai rohani disenschantment of nature. Sains bisa berkembang dan maju, jika dunia ini dikosongkan dari tradisi atau. Jadi, dengan cara apa pun, semua makna-makna ruhani keagamaan ini mesti dihilangkan dari alam. Maka, ajaran-ajaran agama dan tradisi harus disingkirkan. Jadi, alam tabi’i bukanlah suatu entitas suci (divine entity).
Ketika mega komponen sekularisasi menjadi azas epistemologi Barat modern yang melahirkan dualisme epistemologi. Struktur dualisme epistemologi Barat modern telah melepaskan dirinya dari teologi, yang melepaskan fisika dari metafisika.
Dualisme epistemologi Barat sekular telah menjadi embrio lahirnya dikotomi ilmu.Untuk mendapatkan sebuah ilmu, maka pengetahuan itu harus dipisah dari hal-hal metafisik, bersumber pada panca indra dan akal. Sedangkan ilmu agama bukanlah ilmu sains karena obyek yang diteliti bukan empiris, oleh karena itu harus ada dikotomi antara ilmu saint dan ilmu agama.
Sejak saat itulah konsep ilmu yang dihasilkan oleh ilmuwan Barat tidak lepas dari pengaruh sekularisme, utilitarianisme, dan materialisme. Dampak dikotomi ilmu adalah munculnya ilmuan-ilmuan atheis semisal Ludwig Feurbach dan Charles Darwin, dan dualisme pendidikan yang kemudian menjelma dalam peribadi peserta didik yang mendua (split personality).

Dualisme Pendidikan
Dulaisme pendidikan adalah konsekwensi logis dari dikotomi ilmu Barat. Dalam kaitannya dengan pendidikan, dualisme merupakan konsep yang berhubungan dengan wujudnya dua sistem pendidikan umum dan sistem pendidikan agama yang berbeda dan keduanya tidak berintegrasi. Oleh itu, perjalanan kedua sistem pendidikan ini selalu berlawanan antara satu sama lain. Sistem pendidikan agama (tradisional) tumpuannya adalah kepada ilmu-ilmu agama, sedangkan sistem pendidikan umum (modern) lebih menumpukan kepada ilmu-ilmu yang tidak ada sangkut pautnya dengan agama (sekuler).
Secara operasional, persoalan dualisme pendidikan tersebut membawa dampak berupa pengelolaan pendidikan nasional yang tidak punya dasar pijakan yang jelas. Hal ini terjadi karena dalam pelaksanaannya pemerintah Indonesia menganut pola kolonialisme Belanda, juga merupakan refleksi dari pergumulan dua basis politik, Islam dan nasionalisme, yang sejak awal kemerdekaan tidak bisa dielakkan.
Di sini kemudian muncul dua lembaga pendidikan dalam menangani pendidikan yang ada. Pertama lembaga pendidikan umum untuk pendidikan ilmu umum yang berada di bawah naungan mentri pendidikan. Sedangakan untuk pendidikan agama, masih berada dibawah lindungan mentri agama.
Secara intelektual, persoalan muncul dengan adanya dikotomisasi kurikulum, yakni kurikulum umum dan kurikulum agama. Akibatnya, terjadi pula dikotomisasi kelulusan antar dua lembaga. Lebih parah lagi ditinjau dari sisi keahlian, adanya dikotomisasi itu seakan-akan telah menciptakan label Islam dan label non-Islam terhadap kelulusan pendidikannya. Selain itu karena masih sering lulusan madrasah mendapat perlakuan diskriminatif karena dianggap kemampuan umumnya belum setara dengan sekolah umum. Ketika masuk ke perguruan tinggi atau ke dunia kerja perlakuan diskriminatif tersebut sangat dirasakan oleh lulusan madrasah sebagai produk pendidikan Islam.


Kalsifikasi Ilmu al-Ghazali Sebagai Asas Pendidikan Islam
Dalam klasifikasi ilmu, al-Ghazali menghiraki ilmu menjadi dua bagian. Ilmu fardhlu 'ain dan ilmu fardhlu kifayah. Menurut al-Attas, apa yang dilakukan al-Ghazali ini adalah mengutamakan muatan ilmu dari pada metode sendiri. Sebab menurut al-Attas manusia memiliki sifat dualistis, bagi mereka ilmu pengetahuan yang baik adalah dapat mengakomodir kebutuhan spiritual yang permanen dan sekaligus kebutuan material dan emosional. Namun hal ini bukan berarti al-Ghazali mengabaikan metode. Bagi al-Ghazali bahwa kemuliaan sebuah ilmu ditentukan oleh buahnya dan keaslian prinsip-prinsipnya (watsaqat al-dalil wa qawwatihi), dan yang pertama itu lebih penting dari yang kedua. Sebagai contoh, walaupun tidak setepat matematika, ilmu kedokteran lebih penting bagi seseorang. Begitu juga ilmu agama, (ilmu al-din) adalah lebih mulia dari ilmu kedokteran.
Artinya kurikulum pendidikan Islam bila merujuk kepada Imam al-Ghazali sesuai dengan konsep klasifikasinya, maka pembelajaran yang diutamakan adalah dari segi konten martabat ilmu itu sendiri. Bila begitu maka isi kurikulum pendidikan Islam dimulai dengan ilmu fardhlu 'ain kemudian ilmu fardhlu kifayah.

a. IlmuFardhuAin
Ilmu fardhlu 'ain adalah ilmu yang wajib dituntut oleh semua muslim, yang berakal dan baligh. Bagi al-Attas ilmu fardhlu 'ain tidaklah ilmu pengetahuan yang kaku dan tertutup sebagaimana pengertian yang populer terjadi. Cakupan Fardhlu 'ain sangat luas sesuai dengan perkembangan dan tanggung jawab spiritual, sosial, dan profesional seseorang. Hal ini berarti bahwa mencari ilmu tingkat tinggi secara keagamaan adalah wajib dan sarana yang lebih baik untuk memperolehnya merupakan syarat mutlak, maka wajib pula menguasai ilmu-ilmu yang membantu memperoleh ilmu yang lebih tinggi tersebut.
Sebagimana definisi fardhlu 'ain, bahwa yang wajib mempelajari ilmu ini adalah bagi mereka yang berakal dan baligh, maka pendidikan ilmu fardhlu 'ain sudah dipelajari dan diamalkan ketika peserta didik mengijak masa tersebut. Menurut kholili hasib MA, pendidikan ilmu fardhlu 'ain bisa dibebankan kepada anak setingkat kelas VI Madrasah. Sebab dalam usia itu peserta didik sudah menginjak pada masa baligh sehingga beban ilmu fardhlu 'ain sudah bisa ditaklifkankepada mereka.
Bagi al-Ghazali ilmu fardhlu 'ain ilmu yang berdasakan pada wahyu meliputi: pertama: ilmu aqidah atau ilmu kalam : ilmu yang membahas Tuhan, kemudian juga ilmu tentang para Nabi. Ilmu kalam juga membahas tentang ilmu al-sam’iyat yaitu ilmu yang dijelaskan dalam nash al-Qur’an maupun as-Sunnah seperti malikat, kitab-kitab Allah, qadhla’ dan qadar Allah, mu’jizat, hari akhir, pertanyaan kubur, ni’mat dan adzab kubur, pahala dan siksa, hari kebangkitan, syafa’at Nabi saw, hari perhitungan, penimbangan amal, telaga, jembatan, surga, neraka, ‘arsy, kursy, lauh, sampai pada hidupnya para syuhada’ di dalam kubur.
Melihat betapa kompleks yang dibahas dalam ilmu kalam, serta kebutuhannya begitu urgent bagi peserta didik muslim. Maka dalam pengaplikasian terhadap kurikulum pendidikan Islam, porsi yang diberikan kepada ilmu kalam hendaknya mendapatkan porsi yang lebih banyak. Pembahasan ilmu kalam tidak sebatas peserta didik faham dan hapal akan materi pelajaran namun peserta didik harus benar-benar mampu menghayati dan memanfaatkan ilmu tersebut.
Strategial-Ghazali dalam penyampaian materi ilmu kalam bagi pemula ialah disyaratkan seorang pendidik untuk mentransfer langsung materi tersebut kepada peserta didik. Peserta didik tidak dibiarkan menela’ah ilmu kalam dengan otodidak baik memalaui bacaan, penelitian atau nash-nash dalil naqli. Sebab akal peserta didik belum mampu menyerap makna yang dikehendaki dalam teks tersebut. Dikhawatirkan kemudian menjadikan rancunya pemikiran peserta didik karena keterbatasan akal yang dimiliki dalam memahami teks secara individual. Jika hal itu mampu diaplikasikan dalam diri peserta didik, maka ilmu kalam akan menjadi dasar cara pandang (worldview) terhadap setiap realitas yang ada dengan cara pandang tauhidi.
Hirarki ilmu fardhlu 'ain yang kedua menurut al-Ghazali adalah ilmu fiqh. Menurut al-Attas ilmu fiqh merupakan ilmu prinsip-prinsip dan pengamalan Islam (Islam, Iman dan Ihsan) yang pengetahuan syariatnya adalah aspek yang penting dalam pendidikan Islam.
Dalam hal ini al-Ghazali mengelompokkan ilmu fardhlu 'aindalam ilmu fiqh diantaranya: Bersuci (Thaharah), Sholat, zakat, puasa (Shaum), dan haji, selebihnya termasuk pembahasan ilmu fardhlu kifayah. Kecuali bagi beberapa individu-individu yang kondisinya membutuhkan ilmu fiqhtersebut. Seperti misalnya; seorang peserta didik pada saat yang sama dihadapkan problem pemecahan hak waris, maka kondisi individu inilah yang menjadikan ilmu faraidhl yang pada awalnya adalah ilmu fardhlu kifayah mengalami dinamis fardhlu 'ain.
Dalam konteks aplikasi, merujuk kepada strategi pendidikan al-Ghazali. Maka ilmu Fiqh meliputi Thaharah, sholat, zakat puasa dan haji, hendaknya dimasukan kurikulum pendidikan dengan porsi lebih namun sedikit dibawah setelah ilmu kalam. Peserta didik tidak saja hanya diberikan penjelasan tentang tata cara, syarat-rukun ilmu fiqh. Namun seorang pendidik harus bisa memberikan kepada peserta didik nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalam pembelajaran ilmu fiqh tersebut. Sehingga menyadarkan peserta didik bahwa apa yang dipelajari bukan saja berkaitan dengan hal-hal kewajiban yang harus dilaksanakan oleh seorang muslim yang sudah aqil-baligh, lebih dari itu peserta didik dapat menginsafi nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam ilmu fiqh tersebut.Contoh: ketika membahas tentang sholat dihubungkan denganfadhilah sholat dengan mengungkap rahasia-rahasia keistimewaan sholat berdasarkan al-Qur’an dan sunnah.
Ilmu fardhlu 'ain yang ketiga adalah al-Qur’an; membaca dan tafsirannya. Sebab al-Qur’an adalah sumber otoritas dalam ajaran Islam. Fungsi al-Qur’an bagi umat Islam adalah: sebagai tanda kerasulan Muhammad Saw dan sebagai petunjuk (Al-Baqarah: 185) yang mencakup orientasi pendidikan akidah dan akhlaq (Al-Isra’: 09), ibadah (QS. Al-Dhariyat: 56).
Al-Ghazali menekanan dalam studi al-Qur’an yang utama adalah bacaannya. Sebab dengan mempelajari bacaan adalah bagian dari menjaga kelestarian al-Qur’an. Strategi al-Ghazali dalam mengaplikasikan studi al-Qur’an ialah: pertama beliau selalu menunjukkan rahasia keutamaan (fadhlilah) membaca al-Qur’an untuk memberikan informasi kepada peserta didik bahwasanya dibalik kewajiban mempelajari al-Qur’an ada hikmah yang agung.
Strategi kedua, agar peserta didik menjaga adab ketika mempelajari al-Qur’an. Adapun tatacara bagi peserta didik dalam belajar dan mengamalkan qira’at al-Qur’an ada dua cara: dhohirdan bathin. Tata cara dhohir meliputi: kedaan qari’ (pembaca) suci dengan berwudhu’ dan bersih baik pakaian maupun tempat, mulut sebagai aktifitas membaca juga harus bersih dari makanan, mengawali dengan ta’awudz, membaca al-Qur’an dengan tartil, bila faham arti disarankan membacan dengan khusyu’memahami arti dan masih banyak lainya
Sedangkan Adab yang mengenai bathin itu, diperinci lagi menjadi arti memahami asal kalimat, cara hati membesarkan kalimat Allah, menghadirkan hati dikala membaca sampai ketingkat memperluas, memperhalus perasaan dan membersihkan jiwa. Dengan demikian, kandungan al-Qur’an yang dibaca dengan perantaraan lidah, dapat bersemi dalam jiwa dan meresap kedalam hati sanubarinya.
Ilmu fardhlu 'ain keempat bagi al-Ghazali adalah ilmu tashawwuf. Ilmu ini mempelajari tentang metafisika untuk mengetahui derajat dan sunnatullah, serta ilmu yang dengan ilmu tersebut seorang hamba dapat membersihkan penyakit hati serta dengan ilmu tashawwuf seorang hamba dapat membedakan ciri-ciri Allah dengan ciri-ciri setan.
Dalam mengaplikasikan ilmu tashawwauf pada kurikulum pendidikan Islam maka terlebih dahulu peserta didik diberikan wawasan tentang ilmu jiwa diantaranya tentang konsep diri (nafs), ruh, hati dan akal. Dalam mentrasfer ilmu keempat fakultas (nafs, ruh, aql dan qalb) harus dalam satu paket, dan memberikan penjelasan akan hubungan satu sama lainnya. Kemudian penjelasan tentang empat fakultas tersebut melibatkan ilmu fardhu kifayah biologi tentang anatomi.
Suatu strategi pendidikan yang luar bisa yang diajarkan oleh al-Ghazali sebab dengan demikian maka telah terjadi integrasi ilmu syariah dan aqliyah. Hal ini yang kemudian bisa membangun jiwa peserta didik bahwasannya konsep ilmu dalam Islam adalah integral dan sinergis, bukan dikotomi. Ini akan kami bahas pada pembahasan tersendiri.
Peserta didik harus memahami makna demi makna dari istilah, qolb, Ruh, Nafs dan aql yang masing-masing fakultas ini memilki makna secara dhohir dan bathin. Ketika memberikan pengertian dhohir, al-Ghazali menjelaskannya dengan dengan detail dengan menggunakan ilmu anatomi dan psikologi. Jadi ilmu anatomi yang merupakan bagian dari ilmu biologi dan hukumnya fardhlu kifayah, pada saat ini ia mengalami dinamisasi menjadi fardhlu 'ain, sebab dibutuhkan untuk menjelaskan ilmu tashawwuf yang merupakan ilmu fardhlu 'ain.
Penjelasan al-Ghazali tentang konsep jiwa (nafs), ruh, hati (qalb) dan aql. Dalam makna yang kedua, semua memiliki akar kesamaan dan satu sama lain saling berhubungan. Hal ini beliau katakan bahwasannya semua makna qalb, ruh, nafs dan aql adalah sama-sama bisikan Rabbani-Ruhani yang datangnya dari Allah untuk diseru kepada kebenaran.
Setelah faham tentang pengertian qalb, ruh, nafs dan aql, beserta potensi-potesinya, kemudian al-Ghazali membahas tentang melatih dan melatih hati dan mebersihkannya dari penyakit (riyadhlah al-nafsi wa tahdzi bihi). Arti Riyadhla al-Nafs adalah, Maksud dari mujâhadah dan riyâdhatun nafs dalam mendidik akhlak, menurut al-Ghazali adalah mendorong jiwa untuk melakukan amalan-amalan yang dituntut oleh akhlak yang dituntut. Maknanya, cara untuk memperbaiki jiwa adalah dengan menghilangkan berbagai kenistaan dan akhlak buruknya, serta meraih keutamaan dan akhlak-akhlak yang baik . Dalam bahasan ini meliputi fadhilah, hakikat dan cara memperoleh akhlak yang baik (husn al-khuluq).
Pendidikan tashawwuf ini harus benar-benar mendapat perhatian serius, sebab pembentukan karakter seorangmurid bersumber dari pendidikan tasawwuf. Hendaknya seorang guru dalam memberikan pelajaran ini memperhatikan perindividu peserta didiknya agar diketahui sifat-sifat negatif dominan peserta didik yang harus dibenahi. Al-Ghazali menuturkan bahwa seorang guru dalam bidang tasawwuf seperti seorang dokter, dimana ia harus mendiagnose setiap pasienya untuk mengetahui penyakit yang diderita, agar obat yang diberikan sesuai dengan penyakit pasien tersebut.
Pembersihan diri dari virus-virus hati adalah langkah utama dalam pendidikan tasawwuf sebab dengan bersihnya diri adalah syarat mendapatkan hakikat ilmu, sebab ilmu itu hidangan jamuan mulya dari Allah yang bersumber dari wahyu yang mulya pula. Oleh karenanya orang yang menerima ilmu adalah orang yang mulya dengan bersih jiwanya.
Setelah mengetahui penyakit jiwa yang bersarang di hati peserta didik, maka dilakukan pengobatan dengan menggunakan metode sesuai penyakitnya masing-masing. Pembersihan hati dari sifat buruk ini dilakukan dengan dengan bertahap hal ini agar melatih jiwa untuk berubah dari kebiasaan buruk menjadi baik.
Dalam pandangan al Ghazali, meniscayakan aspek teoritis dan praktis, dan penyembuhan hanya terjadi melalui proses yang bersifat teoritis dan praktis secara bersamaan. Teoritis berarti mempelajari dan menganalisa akhlak yang buruk, dan praktis bermakna merubah akhlak buruk tersebut dengan akhlak yang berlawanan.

b. IlmuFradhuKifayah
Adapun untuk mengaplikasikan ilmu fardhu kifayah dalam kurukulum pendidikan Islam, ilmu fardhlu kifayah untuk ilmu syariah semisal ilmu fiqh tetap satu paket dengan ilmu fiqh fardhlu 'ain, namun porsi waktu bisa dikurangi, dan pembahasan tidak se-intens pembahasan ilmu fiqh yang fardhl 'ain. Cukup bagi peserta didik hanya memahami ilmu fiqh tersebut. Begitu pula ilmu fardhu kifayah syariah yang lainnya. Sedangkan ilmu fardhlukifayah ghayru syar'iyah, semua dipelajari namun dengan porsi dan durasi waktu di bawah ilmu fardhlu 'ain.
Namun bila ternyata ilmu-ilmu fardhlu kifayah itu sekiranya dibutuhkan untuk mencapai ilmu fardhu ain, maka hukumilmu fardhu kifayah yang dibutuhkan ilmu fardhlu 'ain tersebut berubah menjadi ilmu fardhlu 'ain pula. Contoh: dalam pelajaran ilmu al-Qur’an untuk bisa memabaca al-Qur’an secara fashih maka diperlukan ilmu tajwid, karenanya ilmu tajwid menjadi ilmu fardhlu 'ain.
Tidak itu saja, ilmu fardhlu kifayah-pun mengalami dinamisasi ilmu fardhlu 'ain ketika eksistensinya diperlukan dalam kebutuhan sosial masyarakat. Contoh: ketika salah satu warga masyarakat ada yang meninggal dunia, namu tidak ada seorang-pun masyarakat yang memiliki ilmu tentang janazah, kecuali peserta didik yang ada, maka kebutuhan ilmu janazah yang dimilki peserta didik, pada awalnya ilmu fardhlu klifayah akan terkonversi menjadi ilmu fardhlu 'ain. Hal itu berlaku bagi semua ilmu fardhlukifayah, baik yang syar'iyah maupun ghayru syar'iyah.
Klasifikasi Ilmu Sebagai Aaas Pendidikan Itegral
Ilmu fardhlu kifayah sebagai azas pendidikan Islam meliputi ilmu syariah dan ilmu ghoyru syari'ah. Ilmu fardhlu kifayah syari'ah ini yang dimaksud oleh al-Ghazali adalah ilmu syariah yang selain ilmu fardhlu 'ain. Misal: ilmu fiqh selain yang masuk dalam lima rukun Islam tadi: janazah, muamalah, faraidhl, nikah, hudud, jizyah dan lain.
Adapun ilmu fardhlu kifayah yang ghoyru syar'iah meliputi ilmu kedokteran, ilmu matematika, ilmu astronomi , ilmu pengetahuan sosial, ilmu pengetauan alam (biologi) dan ilmu sejarah. Pengetahuan ini tidak diwajibkan kepada semua muslim kecuali dalam kasus-kasus tertentu. Akan tetapi harus ada salah satu yang mempelajarinya, bila tidak maka akan mendapatkan dosa semua serta akan menanggung akibatnya.
Adapun untuk mengaplikasikannya dalam kurukulum pendidikan Islam, ilmu fardhlu kifayah untuk ilmu fiqh tetap satu paket dengan ilmu fiqh fardhlu 'ain, namun porsi waktu bisa dikurangi, dan pembahasan tidak se-intens pembahasan ilmu fiqh yang fardhl'ain. Cukup bagi peserta didik hanya memahami ilmu fiqh tersebut. Begitu pula ilmu fardhu kifayah syariah yang lainnya dan ilmu fardhlukifayah ghayru syar'iyah, semua dipelajari namun dengan porsi dan durasi waktu di bawah ilmu fardhlu 'ain.
Namun bila ternyata ilmu-ilmu fardhlu kifayah itu sekiranya dibutuhkan untuk mencapai ilmu fardhu ain, atau tanpa ilmu fardhu kifayah, ilmu fardhu ain tidak bisa dicapai, maka hukum ilmu-ilmu fardhu kifayah yang dibutuhkan ilmu fardhlu 'ain tersebut berubah menjadi ilmu fardhlu 'ain pula. Contoh: dalam pelajaran ilmu al-Qur’an untuk bisa memabaca al-Qur’an secara fashih maka diperlukan ilmu tajwid, karenanya ilmu tajwid menjadi ilmu fardhlu 'ain.
Tidak itu saja, ilmu fardhlu kifayah-pun mengalami dinamisasi ilmu fardhlu 'ain ketika eksistensinya diperlukan dalam kebutuhan sosial masyarakat. Contoh: ketika salah satu warga masyarakat ada yang meninggal dunia, namu tidak ada seorang-pun masyarakat yang memiliki ilmu tentang janazah, kecuali peserta didik yang ada, maka kebutuhan ilmu janazah yang dimilki peserta didik, pada awalnya ilmu fardhlu klifayah akan terkonversi menjadi ilmu fardhlu 'ain. Hal itu berlaku bagi semua ilmu fardhlukifayah, baik yang syar'iyah maupun ghayru syar'iyah.
Dalam kaitannya dengan pendidikan integral berbasik klasifikasi ilmu al-Ghazali, yang dimaksud penulis ialah menjadikan konsep ilmu fardhu ain sebagai landasan dari ilmu fardhu kifayah ghoyru syar’iyah seprti ilmu biologi, matematika, ekonomi, kedokteran, piskologi, sosiologi dan lai sebagainya. Juga yang dimaksud dalam penjelasan bab kali ini adalah menggunakan ilmu ghoyru syar'iyah sebagai bagian dari metode penjelasan tentang ilmui fardhlu 'ain.
Tentunya ilmu fardhlu kifayah ghoyru syar’iyah yang menjadi mata pelajaran atau mata kuliah terlebih dahulu mengghilangkan pengaruh nilai-nilai Barat yang penuh problem dari ilmu pengetahuan dan kemudian memasukan nilai-nilai Islami di dalamnya. Hal ini perlu dilakukan karena ilmu pengetahuan kontemporer atau menurut istilah al-Ghazali ilmu fardhu kifayah ghoyru syar’iyah yang ada masih memiliki nilai-nilai Barat yang humanistik, sekuleristik dan tentunya dikotomis. Nilai-nilai yang terkandung dalam ilmu pengetahuan tersebut menurut al-Attas harus dihilangkan sebab tidak sejalan dengan nilai-nilai Islam dan dapat menimbulkan bahaya pada akidah muslimin.
Langkah awal dalam pengaplikasian kalsifikasi ilmu al-Ghazali sebagai azas pendidikan integral ialah mendudukan niat mencari ilmu baik fardhlu 'ain maupun fardhlu kifayah sebagai niatan semata-mata ibadah kepada Allah. Hal ini yang telah dilakukan oleh ulama’-ulama’ salaf al-Shalih ketika meraka melakukan kegiatan aktivitas belajar mengajar. Betapa urgent sebuah niat, sampai-sampai Rasul Saw memerintahkan kepada umatnya agar setiap menata niat beribadah dalam melakukan segala kegiatan. Sabda Rasul Saw:
Artinya: Sesungguhnya Tiada lain yang dinamakan amal (shalih) itu adalah dengan berniat (amal sholih). (HR. Bukhari).
Dalam merealisasi klasifikasi sebag azas pendidikan integral yang kedua ialah menajdikan ilmu fardhu ain sebagai landasan ilmu fardhu kifayah. Ilmu biologi dalam pespektif pendidikan integral berbasik fardhu ain dapat dilihat dari contoh tentang fase embrio. Fase-fase embrio mengacu pada tahap-tahap yang berbeda dari perkembangan seorang bayi. Ringkasnya, ciri-ciri tahap perkembangan bayi dalam rahim adalah sebagaimana berikut:
(Tahap Pre-embrionik),Pada tahap pertama, zigot tumbuh membesar melalui pembelahan sel, dan terbentuklah segumpalan sel yang kemudian membenamkan diri pada dinding rahim. Seiring pertumbuhan zigot yang semakin membesar, sel-sel penyusunnya pun mengatur diri mereka sendiri guna membentuk tiga lapisan.
(Tahap Embrionik)Tahap kedua ini berlangsung selama lima setengah minggu. Pada masa ini bayi disebut sebagai "embrio". Pada tahap ini, organ dan sistem tubuh bayi mulai terbentuk dari lapisan- lapisan sel tersebut.(Tahap fetus)Dimulai dari tahap ini dan seterusnya, bayi disebut sebagai "fetus". Tahap ini dimulai sejak kehamilan bulan kedelapan dan berakhir hingga masa kelahiran. Ciri khusus tahapan ini adalah terlihatnya fetus menyerupai manusia, dengan wajah, kedua tangan dan kakinya. Meskipun pada awalnya memiliki panjang 3 cm, kesemua organnya telah nampak. Tahap ini berlangsung selama kurang lebih 30 minggu, dan perkembangan berlanjut hingga minggu kelahira.
Informasi mengenai perkembangan yang terjadi dalam rahim ibu, baru didapatkan setelah serangkaian pengamatan dengan menggunakan peralatan modern. Namun sebagaimana sejumlah fakta ilmiah lainnya, informasi-informasi ini disampaikan dalam ayat-ayat Al Qur'an dengan cara yang ajaib. Hal ini telah disampaikan oleh Allah dalam QS, Azzumar: 06 :
Artinya: "... Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?".
Lafadz “dhulumatin tsaalits” dalam ayat ini memberikan informasi bagi dunia kedokteran bahwa di dalam kandungan, janin memiliki tiga fase yaitu: fase pre-embrionik, fase embrionik, dan fase fetus, sebagimana penjelasan di atas.
Pengaplikasian pendidikan integral ini bias diterapkan kepada semua mata pelajaran pada ilmu fardhu kifayah.
Termasuk integrasi ilmu fardhu ain dengan ilmu fardhu kifayah ialah menjadikan ilmu fardhu kifayah untuk membantu menguraikan atau menjelaskan ilmu fardhu ain. Hal ini telah dicontohkan penulis dipembahasan di atas tentang penjelasan nafs, ruh, qalb dan akal yang melibatkan ilmu anatomi.
Share: